Gadis Kecil dan Kalung Mutiara
: untuk LM yang sedang bersedih, semoga ikhlas dan lebih tabah, semoga yang terbaik akan segera hadir untukmu.
Di suatu masa yang telah lama lalu [yang mungkin esok akan kembali], seorang gadis kecil sedang sangat berbahagia. Beberapa hari lalu, ibunya memberikan sebuah kalung mutiara berkilau untuknya. Bukan mutiara asli, memang. Sekedar tiruan dari sejenis plastik saja. Tapi sungguh indah kalung itu. Si gadis kecil suka sekali mengamati kilau permukaannya yang halus, lembut memantulkan cahaya.
Tahun demi tahun berlalu. Ibu si gadis kerap memperhatikan anaknya bermain dengan kalung mutiara imitasi pemberiannya dulu. Tiap kali sang ibu memergoki si anak mengagumi kilau kalung mutiara itu, ia tersenyum penuh misteri. Dan pada suatu malam sang ibu berkata pada anaknya, “Nak, bolehkah Ibu minta kembali kalung itu?”
Gadis kecil terperangah. “Mengapa, Bu?” tanyanya gundah, “Apakah aku bersalah? Tidakkah aku selalu menuruti kata Ibu? Mengapa Ibu ingin mengambil kembali kalung kesayanganku itu?” lanjutnya dengan mata berkacakaca. Baca selebihnya »
subaltern
Telah lama ia didera tanpa tahu untuk apa ia tersiksa. Punggung, lengan dan kakinya penuh parut serta luka — tiada habis ia disesah. Cuma seonggok tulang terbalut kulit keriput. Itu saja yang tersisa dari tubuhnya; sebab selama ini ia dipaksa menelan serpihserpih ucapan keji, itu saja santapannya. Dahaga yang ia rasakan dibasuh pahit racun diam: katakata telah dirampas dari mulutnya.
Hanya matanya yang terkadang masih memandangmu dengan tanya, seolah ia ingin berkata, “Pandanglah aku sejenak, kumohon… Sungguhkah aku layak didera?” Tapi kau tak pernah sanggup [atau tak pernah cukup peduli] memandang sepasang mata itu. Entah kenapa. Maka kau palingkan wajahmu penuh jijik tiap kali ia menatapmu.
Malam ini ia menjerit. Kau tak paham apa yang ia ratapkan. Yang kau dengar hanya raungan pilu memecah kelam. Ia seperti berkatakata, tapi engkau tak bisa menangkap maknanya. Terlalu lama ia dicekik racun diam sehingga ia tak lagi mampu berbahasa. Sesekali kau dengar isaknya di antara jeritan itu. Kau tak ingin mendengarnya berlamalama. Terlalu pilu. Lagi pula, deritanya bukan urusanmu.
…atau nasionalisme?
“… Aku mencintainya seperti embun yang rela menguap bersama cahaya tiap kali mentari pagi datang menyapa. Aku mencintainya bersama nyanyian burung-burung gereja. Aku mencintainya seperti dedaunan yang ikhlas menyerpih menjadi humus penyubur tanah gersang. Aku mencintainya bersama pepohonan yang tetap tegak di tengah badai tanpa lindungan. Aku mencintainya seperti gemeretak kayu bakar yang rela menjadi abu demi memberi hangat. Aku mencintainya dengan tubuh yang penuh luka. Aku mencintainya bersama air mata.
Aku mencintainya…” **
Mukadimah
Pernahkah anda jatuh cinta… sedemikian dalam, dan tak terbalaskan? Ada kerinduan yang menggerogoti hati, yang membuat detak jantung terhentak-hentak seperti mau meledak. Ada gelombang hasrat untuk sekedar dilirik—kalau mungkin sedikit diperhatikan—sedetik saja. Ada gundah karena ‘dia’ tak juga mau hadir untuk menyapa. Ah, setiap kali saya berpikir tentang Indonesia, seperti itu kiranya yang saya rasa.
Menjadi perempuan di sebuah negara bernama Indonesia bukanlah perkara mudah. Pola budaya yang kental dengan kuasa patriarki telak menjadi kerikil tajam yang membuat langkah tertatih nyeri. Kebijakan-kebijakan politik hadir dengan aroma testosteron yang menyengat, acap kali membuat nafas saya tersengal sesak. Dilengkapi aparat publik yang kelewat sibuk berkutat dengan agenda mereka sendiri [dan karena kebanyakan dari mereka lelaki, tak jarang kepentingan perempuan tersisih ke pinggiran jurang].
Frustrasi! Ingin teriak, “Buat apa negara ini kalau kami tak punya ruang buat utuh jadi manusia..?”
Begitulah…
Tapi entah kenapa, cinta saya pada bangsa dan negara ini tak juga lekang. Negara… Negara… Ah, apaan sih negara..?
shh..!
ingin kukoyak topeng tebalmu
guyurkan hujan untuk menghapus riasan manismu
mulut madu bersalut gulagula palsu
membebalkan kupingkuping yang terbuai dustamu.
tubuh rapuhmu persembunyian monster berkepala dua
bercabang lidahnya berbisa; dahi bercula tiga
gelap yang mengalir di nadimu menetes deras -
jauh dari lubuk hatimu nir cahaya.
kau pinta lidahlidah api menggila menjilatmu
katamu, kau ingin bolabola bara menabrakmu
supaya runtuh dunia kecil penuh basabasi merdumu;
kuserukan ‘amin!’ buat harapmu.
biar luruh semua dustamu.
biar nampak wajah aslimu.
biar lepuh topeng tebalmu.
shh..!
4 oktober 2008 ; 16.13
Komentar (1)
Tinggalkan sebuah Komentar
Komentar (5)