Arsip untuk Maret, 2008|Halaman arsip bulanan

Cinta Mati

Aku mencintainya. Aku tahu itu, kala kulihat jingga senja, di latar cakrawala yang berpendar lembut membelai rasa. Mataku meneteskan haru cinta ketika kulihat rerumput rebah penuh rela ditengah terpaan angin yang berderu mencekam udara.

Sungguh, aku mencintainya. Walau tak pernah ia mau menatapku sekerling saja. Aku merindukannya: Menginginkan sapaannya sekedar untuk menunjukkan bahwa aku cukup pantas berada bersamanya. Ah, sungguh aku ingin ia merasakan juga hadirku seperti hatiku yang tak putus didekap kasih untuknya.

Tapi ia acap membuatku meneteskan air mata. Baca selebihnya »

Setetes Harap

Ketika Hidup mengambil sesuatu darimu, berikanlah lebih banyak padanya.

Hari ini, kata-kata itu terus terngiang di telinga yang menempel di hati saya. Bukan tanpa sebab, tentunya. Ya, saya sedang merasa kehilangan; walau sesungguhnya mungkin rasa ini hanya cerminan paranoia. Namun saya juga menyadari, bahwa semua yang saya ‘miliki’ saat ini hanyalah pinjaman sementara: Hidup akan mengambilnya kembali suatu hari.

Masih bisakah saya memberikan lebih pada Hidup? Semoga saja. Sebab saya pernah berhadapan dengan kenyataan itu. Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan, ketika cahaya dan keindahan terenggut nyaris tiada sisa; meninggalkan rasa pahit di lidah yang tak mau pergi untuk waktu yang lama. Baca selebihnya »