Arsip untuk September, 2008|Halaman arsip bulanan

Tentang Kebahagiaan *

“Happy, but for so happy ill secured.”
- Milton

Gue lihat lu jadi pemasalah di Madrasah Falsafah Tobucil Rabu besok. Ngomongin kebahagiaan, ya? Emang lu bahagia?” ujar seorang kawan di penghujung saluran telepon. Entah mengapa ia merasa terdorong untuk menyengaja bertanya setelah melihat di situs Multiply Tobucil bahwa saya bakal menghantarkan obrolan sore tentang kebahagiaan.

Sumbang suara kekeh saya menjawab tanya yang ia serukan. Ya, saya memang tak punya jawaban lain, selain ketawa [setengah] terpaksa yang pasti bakal diprotes Trie Utami karena nadanya tidak pitch. Sejujurnya, mungkin saya adalah orang yang paling tidak kompeten untuk bicara tentang kebahagiaan. Terlebih jika bahagia yang dimaksud mesti memenuhi standar umum yang berlaku di masyarakat kelas menengah tempat saya menetap.

Nggak percaya? Oke, saya perkenalkan diri saya pada anda. Saya seorang perempuan yang tidak menikah, berusia nyaris 35 tahun. Boro-boro menikah, status saya sebagai jomblo permanen sudah kadung kondang di kalangan para teman dan temannya teman-teman. Kondisi ini saja mestinya sudah bisa bikin depresi dan nyaris bunuh diri, mengingat saya tinggal di sebuah komunitas yang meyakini bahwa perempuan mesti selekasnya ’laku’ dinikahi sebelum usia produktifnya untuk beranak-pinak meredup digilas waktu—namun entah kenapa, sejauh ini saya masih betah hidup dan rajin ketawa-ketiwi.

Itu baru soal status berpasangan. Pekerjaan? Hmm, saya mendapat predikat ’orang aneh’ untuk sektor ini. Soalnya saya selama ini bekerja sekedar untuk menafkahi diri sambil bersenang-senang dalam lingkup berbagai komunitas yang menarik buat saya. Segala diskusi dari politik, filsafat, sampai seni rajin saya kunjungi. Itu sih hobi, maka tak terlalu salah jika seorang kawan menjuluki saya mesin diskusi. Nah, menyadari bahwa saya butuh makan dan biaya transport buat berkeliaran dari satu ruang diskusi ke ruang diskusi lainnya, maka saya bekerja sebagai penyiar di salah satu radio swasta. Buat saya sih, ini menyenangkan. Saya tinggal mengoceh tentang berbagai hal yang memang biasanya jadi bahan obrolan sehari-hari dengan teman-teman, memutarkan lagu-lagu yang saya suka, dan dibayar untuk itu semua. Ya, penghasilannya sekedar nyaris cukup, sih. Tapi ya sudah, lah. Toh saya masih punya waktu untuk berkomunitas dan diskusi sana-sini. Jadi kalau bahagia diidentikkan dengan kelimpahan materi, kemampuan untuk membeli apapun yang diinginkan, atau liburan ke luar negeri, mestinya saya jadi manusia yang sangat sengsara. Sebab kebahagiaan dalam bentuk itu nggak bakal saya cecap dengan penghasilan saya sekarang. Baca selebihnya »