Hell O’ Kitty

Image

Photo © Desiyanti. All Rights Reserved.

Tiap malam dia akan bersiul memanggil kucing-kucing di sekitar rumahnya. Tak lama kemudian, biasanya sekitar selusin kucing rupa-rupa bentuk dan warna mulai datang dan pergi, giliran antri makan.

“Ini kucingmu semua?
“Bukan. Kucing liar.”
“Memang biasa kamu yang kasih makan?”
“Iya.”
“Kenapa kasih makan kucing liar?”
“Kasihan, nggak tiap hari mereka bisa dapat makan. Lagian kali aja ntar kalau aku mati, reinkarnasi jadi kucing.”

Tadinya aku ingin lanjutkan bertanya, bagaimana kalau ternyata dia reinkarnasi jadi tikus. Tapi, sudahlah….

Kota-kota besar nyaris selalu jadi sarang gigantis bagi mahluk-mahluk liar. Kucing, anjing, tikus, dan manusia, berkembang biak rebutan rezeki. Entah berapa kucing liar lahir di tiap kota saban harinya. Bisa jadi lebih banyak dari angka kelahiran manusia. Walau, kupikir, banyak juga yang tewas sebelum dewasa.

“Sudah berapa lama kamu kasih makan kucing liar?”
“Hmmm, lama banget. Tapi beneran sengaja rutin kasih makan kucing liar ya kira-kira baru setahun belakangan ini.”
“Hafal semua kucing yang kamu kasih makan?
“Ya, kalau yang sering datang, aku ingat.”
“Setahun belakangan sudah ada yang hilang atau mati?”

Dia terdiam.

“Beberapa hilang, mungkin ada orang yang nggak suka di sini banyak kucing liar dan membuang mereka. Semoga mereka nggak apa-apa. Pernah juga suatu malam aku lihat ada kucing yang kukenali terbaring di jalan. Ketika kuhampiri, tubuhnya bersimbah darah. Mati tertabrak.”

Tuh, kan. Kota besar memang bukan rumah yang ramah buat kucing jalanan. Bagi kucing-kucing liar, bisa jadi kota besar lebih pantas dijuluki Hell O’ Kitty.