Jangkung

Photo © Desiyanti

Photo © Desiyanti. All Rights Reserved.

Teteh, teteh, lihat, saya jangkung!” ujar anak itu sambil tertawa.
“Wah, iya, ya. Kamu tinggi banget!” Kudekati dia, berdiri di sebelahnya, “Tuh, lihat, lebih jangkung dari saya.”

Anak itu terkekeh riang. Dengan lincah dia berjalan di atas enggrangnya, menghampiri dua kawannya yang lain.

“Widih! Kamu lincah bener jalan pakai enggrang. Udah lama belajar?”
“Udah, udah lama bisa.” katanya dengan bangga,
“Saya mah baru belajar seminggu.” Ujar anak berkaus putih. Dia berusaha mengejar temannya sambil agak tertatih-tatih.
“Susah nggak sih belajarnya?” Tanyaku penasaran. Sebagai orang yang pendek membumi, enggrang tampak cukup menjanjikan untuk menambah tinggi badan.
“Aaah, gampang, teh. Mau nyobain?”
“Mmm, nggak ah.” Jawabku sambil meringis. Baru ingat kalau aku takut ketinggian.

Kubidikkan lensa kamera ke arah mereka. “Senyum, dong.” pintaku. Tapi anak-anak itu malah pasang tampang serius. Ah, jaim!

“Lihat fotonya, lihat!” kata anak berbaju garis-garis.

Kuperlihatkan foto hasil jepretanku, dia melonjak-lonjak girang di atas enggrang.

“Asyiiik, jangkung! Jangkung!” teriaknya senang.

Kebahagiaannya begitu murni dan sederhana. Hati-hati, Dik. Jangan sampai jatuh dan mendadak jadi dewasa.