Sinden

Photo © Desiyanti. All Rights Reserved.

Photo © Desiyanti. All Rights Reserved.

Hentak kendang mengiringi tubuh sintalnya bergoyang. Musik mengalun, bersama lantunan lagu yang dinyanyikannya. Beberapa lelaki dari deretan kursi penonton mulai berjoget di pelataran depan panggung dengan gembira.

Sasak rambut menjulang, wajah menor dengan riasan paripurna, kebaya dan sarung ketat membelit tubuhnya, tak lupa gemerlap perhiasan berkelap-kelip menghias telinga, jemari, dan dadanya. Sinden. Sorot lampu panggung, musik membahana, dan goyang joget sensual, sekadar bagian dari pekerjaannya.

Satu, dua, tiga; lelaki-lelaki yang berjoget itu mengulurkan lembar-lembar uang. Tanpa berhenti menyanyi dan berjoget, sang sinden mengambil lembaran-lembaran yang tersodor sambil senyum genit. Ia sisipkan gulungan-gulungan lima puluh ribuan itu ke balik kutangnya.

Malam makin pekat. Derap kendang kian cepat. Panggung semakin liar dipenuhi tubuh-tubuh yang meliuk dan bergoyang.

Sudah tengah malam. Sinden berpamit rihat sejenak. Para pemain musik tetap mengiringi mereka yang masih ingin berjoget. Aku bergegas ke belakang panggung, bukan untuk memberi uang saweran lantaran aku belum gajian. Aku kepingin berbincang dengan sang sinden. Sekadar ingin tahu, seperti apa kesehariannya di luar panggung.

Sepatah sapa sudah nyaris terlontar dari ujung lidahku ketika kulihat dia di balik panggung. Tapi wajah itu bukan wajah genit yang kulihat di bawah sorot lampu tadi. Sang sinden sedang menyeka keringat di dahinya dengan selembar tisu. Seorang awak panggung menyodorkan segelas air, yang segera diraih dan diteguknya dengan tergesa, seakan-akan dia sudah tiga hari tersesat di gurun dan tak minum. Napasnya pendek-pendek. Agak tersengal. Wajah itu lelah. Lelah sekali.

Aku urung menyapa.

Biarlah dia istirahat saja.