Bocah Cilik di Pasar Cihapit

Photo © Desiyanti. All Rights Reserved.

Photo © Desiyanti. All Rights Reserved.

“Mama, lihat, Ma. Mau difoto sama teteh itu.” celoteh si bocah sambil menunjuk ke arahku.

Aku tersenyum kepada ibu dan anak itu, “Boleh ya, Bu. Saya lagi iseng motret-motret.”

“Oh, nggak apa-apa, Neng. Neng wartawan?” tanya sang ibu sambil menunjuk kamera yang tergantung di leherku.

“Bukan, Bu. Saya iseng aja pingin motret ke pasar.” jawabku, “Anak ibu lucu banget. Umur berapa?”

“Baru empat tahun.”

“Tiap hari dibawa ke pasar?”

“Iya, nemenin saya jualan.”

“Belum disekolahin, Bu? Atau barangkali ikut playgroup? Itu lho, Bu, kayak sekolah-sekolahan buat anak-anak sebelum masuk TK.”

Ibu muda itu tersenyum, “Mahal, Neng. Mending saya ajak ikut nemenin saya di sini. Sayanya juga sambil cari uang dengan jualan, bisa ngasuh anak, sekalian ngajarin dia sedikit-sedikit supaya nanti kalau sudah besar bisa bantu-bantu jaga dagangan. Soal sekolah, sih, nanti aja kalau udah waktunya masuk SD.”

“Teteh, teteh mau beli apa?” si bocah menyela percakapan kami. Matanya berbinar membulat, memandangiku dengan jenaka.

“Mmm, aduh, beli apa, ya…” aku jadi jengah. Iya juga, ya. Dari tadi aku mengajak ibu pedagang itu mengobrol tanpa beli apa-apa. Mendadak aku merasa tolol karena datang ke pasar tanpa niatan belanja. “Hehehe, sebetulnya teteh memang datang cuma jalan-jalan, Dik. Nggak maksud beli apa-apa.”

Si bocah nampak agak kecewa. Aku jadi tak tega.

“Adik sudah pintar bantu ibu dagang, ya. Kalau sudah besar mau jadi apa?” pertanyaan standar itu meluncur cepat dari mulutku sekadar untuk mengalihkan topik obrolan.

“Mau jualan kayak mama!” si bocah menjawab dengan sigap, “Tapi mau jualannya di toko yang gede!” sambungnya sambil mengembangkan kedua belah tangannya lebar-lebar.

Aku agak terhenyak. Kupikir bocah itu akan bilang dia bercita-cita jadi pilot, dokter, atau presiden; seperti umumnya anak-anak lain yang pernah kutemui. Bukankah kita dibiasakan untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit–tanpa terbiasa memikirkan cara bagaimana kelak kita akan terbang demi meraihnya? Tapi jawabannya ternyata begitu lugu dan sederhana. Membumi. Mengakar pada kesehariannya yang nyata.

Di perjalanan pulang aku berpikir, betapa terkadang aku sendiri menggantungkan cita-citaku terlalu tinggi. Tentu tak salah. Tapi jangan-jangan, selama ini pohon mimpiku tak punya akar yang dalam; sebab aku menumbuhkan impian tanpa pijakan kuat pada kenyataan. Sedangkan pohon yang tak berakar kuat, tentu rapuh ketika dipanjat.

Ah, semoga cita-citamu tercapai, Dik. Dan kalau sudah jadi pedagang sukses di toko yang gede seperti keinginanmu itu, semoga kita jumpa lagi. Aku tak sabar ingin berbelanja di tokomu nanti.