Penari

Photo © Desiyanti. All Rights Reserved.

Photo © Desiyanti. All Rights Reserved.

Dia sedang menari.

Rambutnya sudah mulai menipis, dengan uban menyelingi legamnya. Wajahnya polos dari riasan. Kening, sudut mata, dan sisi-sisi bibirnya riput ditatah pengalaman hidup. Berpakaian sarung dan kebaya katun biru, sehelai selendang hijau di bahunya.

Dia sedang menari.

Tubuhnya tak seperti tubuh penari yang umumnya kita bayangkan: tak sintal, tak semampai. Tubuhnya kukuh menapak bumi. Tubuh yang sudah tertempa kehamilan, dan persalinan; tubuh yang telah menjadi saksi kelahiran dan kematian; tubuh yang telah meng-alam-i. Tubuh itu telah terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk.

Dia sedang menari.

Abai terhadap tatap orang, hawa dingin, dan seruan penonton yang lengking sesekali. Anggun geraknya mengikuti irama Tarawangsa yang mistis. Tariannya mengalir bersama musik yang mengalun. Dia larut.

Dia sedang menari.

Dia metamorfosa jadi tarian.